Sejarah Game Arcade (Ding Dong), Kenangan yang Tak Pernah Game Over

Sejarah Game Arcade (Ding Dong), Kenangan yang Tak Pernah Game Over

Games
21 April 2026
1 views

Zaman sekarang siapa sih yang masih mencari game Ding Dong alias Arcade sebagai pilihan utama buat main game? Di saat game-game PC, Konsol, bahkan HP sudah jauh di depan dengan game-game yang beragam, menarik, hingga gameplay yang lebih seru.

Apalagi perangkat-perangkat tersebut sudah menjanjikan permainan yang simpel, gampang, dan yang paling penting, mudah untuk diakses dalam kehidupan sehari-hari. Tidak seperti game Ding Dong yang mungkin buat nyarinya aja sekarang susahnya minta ampun.

Tapi, tahukah kamu? di balik pesatnya perkembangan game di era sekarang, Ding Dong adalah wujud nyata dari perkembangan teknologi games itu sendiri. Meski eranya telah redup, game Arcade telah melahirkan generasi gamers yang penuh dengan rintangan dan menghargai sebuah perjuangan.

Nah, seperti apa sih sebenarnya jejak game Ding Dong yang menjadi pondasi dari perkembangan teknologi game bahkan memberi pengaruh terhadap perkembangan anak-anak pada zamannya?

Sejarah dan Evolusi Mesin Arcade

Berbicara soal game Ding Dong mungkin yang terbayang oleh kita adalah taman hiburan bermain atau pusat perbelanjaan yang menyediakan tempat untuk mesin ini berada. Karena disanalah rumah mereka, tempat di mana semua orang bisa menemukannya.

Sejarah mesin arcade

Source: M&P Amusement

Jauh sebelum pemandangan itu menjadi hal yang lumrah, Ding Dong ternyata sedang menjalani evolusinya sejak mulai diperkenalkan di Philadelphia, Amerika Serikat.

Yap, game tersebut bernama SKEE Ball. Menurut M&P Amusement, salah satu distributor mesin arcade tertua di Amerika Serikat, SKEE Ball tercatat sebagai game arcade pertama yang dipatenkan oleh penemunya, J.D. Estes, pada tahun 1909 lalu.

Namun hal ini sempat dibantah. Catatan dari Betson Enterprises menyebut bahwa Joseph Fourestier Simpson-lah yang menciptakan skee-ball pada awal tahun 1900-an. 

Este yang tertarik dengan permainan ini kemudian menginvestasikan sejumlah besar uang kepada simpson, sehingga memperoleh semua hak atas permainan tersebut pada tahun 1913, dan kemudian mendirikan perusahaan JD Este.

Sejarah game arcade

Foto J.D Estes (source: phillyvoice)

Sementara di sisi lain, game yang mungkin jauh lebih familiar bagi kebanyakan orang, Pinball, juga sedang mengalami transisi dari permainan judi yang terlarang menjadi sebuah game yang dapat diterima dan dikenal banyak orang. Ya, Pinball berakar dari game bernama Bagatelle, sebuah permainan yang menggunakan bola kecil yang dipantulkan ke berbagai area.

Bagatelle kemudian dikembangkan oleh Bally Manufacturing ke dalam sebuah mesin Pinball modern yang pertama kali muncul pada 1931 lalu. Gameplay sederhana, dengan permainan menjaga sebuah bola kecil masuk ke dalam lubang perangkap, membuat Pinball populer.

Namun, tahukah kamu? Pinball tak sesederhana seperti yang dibayangkan. Game ini ternyata tumbuh di antara para penjudi, di mana semakin tinggi skor mereka, akan semakin banyak pula uang yang mereka kumpulkan.

Untungnya hal itu tak berlangsung selamanya. Sekitar tahun 1960-an, Pinball akhirnya berevolusi dari game judi ilegal menjadi permainan game yang menyenangkan. Dari mesin Pinball sederhana, menjadi mesin elektronik dengan pengelolaan skor dan efek suara yang lebih dinamis, hingga hadirnya fitur flipper (sirip tangan) pada tahun 1947, yang menjaga bola kecil masuk ke dalam lubang perangkap.

Mesin Arcade terus mendapatkan pembaruan teknologi seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1971, dua nama visioner perusahaan Atari Game menciptakan terobosan baru di dunia game Arcade dengan menghadirkan Spacewar! hingga Space Invaders.

Space Invaders

Source: Max Fitzgerald

Di sinilah, kita mulai melihat mesin Arcade menampilkan desain dengan layar kaca, di mana game ditampilkan melalui video 2 Dimensi. Bagi para millenials, mungkin akan lebih relate dengan Space Invaders, pemain bergerak ke kiri dan kanan di bagian bawah layar, melindungi bumi dari serangan alien yang kecepatannya meningkat saat mereka turun. Game inilah yang menjadi cikal bakal dari game Strikers 1945 dan Raiden.

Cerita Pinball adalah momen penting bagi awal mula perjalanan mesin Arcade menuju puncak kejayaannya. Sementara Spacewar adalah game yang penting untuk perkembangan teknologi game arcade menjadi video game dan munculnya istilah baru, dari Arcade menuju game Ding Dong.

Kenapa Disebut Ding Dong?

Penyebutan nama “ding dong” ini tentunya unik saat terdengar. Sekilas seperti seperti mendengar bunyi khas bell pintu “ding… dong…”. Bukan tanpa alasan, istilah nama ini ternyata berasal dari mesin permainan koin yang populer pada era 1970-an hingga 1980-an, yang juga berkembang pesat ke Indonesia pada tahun 1990-an.

Disebut "dingdong" karena suara khas "ding-ding-ding" dari mesin Arcade itu sendiri ketika game sudah tamat atau saat koin dimasukkan.

Tapi, tahukah kamu?

Sejak awal kemunculannya, Ding Dong itu dikenal dengan nama Arcade yang juga mengalami pergeseran makna seiring dengan perkembangan teknologi dan zaman. Penggunaan nama Arcade sendiri juga menimbulkan perdebatan di kalangan komunitas. Kapan sebuah game dapat dikatakan game Arcade?

sejarah game ding dong

Source: reddit

Sebuah diskusi di Reddit membahas beberapa kriteria sebuah game dapat dikatakan game Arcade, seperti Gameplay yang Sederhana dan Mudah Diakses, Cepat dan Intens, Berbasis skor dan kompetitif, durasi singkat, serta tingkat kesulitan tinggi dan bisa dimainkan berulang-ulang.

Ciri-ciri ini tentu merujuk pada game-game Arcade terkenal seperti Pac Man, Street Fighter, Metal Slug, dan Mortal Kombat yang populer di mesin Arcade taman bermain. Beberapa tahun belakangan, game-game seperti ini juga sudah hadir di smartphone, PC, dan konsol sekalipun.

Yang menjadi pertanyaan, ketika sudah tersedia di device lain, apakah game-game ini masih disebut game Arcade?

Jawabannya adalah, masih! Seiring perkembangan industri game istilah Arcade pada game juga ikut berganti makna menjadi sebuah genre game yang termasuk dalam kriteria tersebut, bukan lagi berdasarkan mesin atau alat yang digunakan, entah itu PC, konsol atau HP, tapi berdasarkan gameplay, durasi, dan teknis permainan.

Era Keemasan Ding Dong: Kenangan yang Gak Pernah Game Over

Penggemar game Ding Dong mungkin sekarang udah memasuki usia dewasa atau bahkan sudah menikah dan punya anak. Ini tak bisa dipungkiri, karena mesin Ding Dong bisa kita temukan dengan mudah di mall-mall sekitar tahun 1990 sampai 2000-an.

Kalau kamu salah satunya, mungkin masih ingat masa-masa di mana para gamers merasakan rivalitas di mesin Tekken dan Street Fighter, betapa susahnya menghindari jamur ungu di Super Mario Bros, sampai namatin Metal Slug berulang kali, atau cuma jadi penonton nungguin abang-abangan namatin Mortal Kombat.

Di era kejayaannya, Ding Dong hadir sebagai pilihan utama perangkat untuk bermain game. Nggak afdol rasanya kalau nggak ke mall atau pusat taman hiburan di hari Minggu, sambil bawa kantong berisi kumpulan satu benda paling berharga, yaitu koin logam.

Yap, Ding dong. Dua kata yang bukan sekadar nama mesin, tapi portal ke masa kecil. Satu koin = satu nyawa. Dan kamu rela merogoh sakunya dalam-dalam demi tiga menit kesenangan yang terasa seperti selamanya.

Setiap anak punya game favoritnya. Dan ada beberapa judul yang rasanya selalu ada di setiap tempat ding dong se-Indonesia

  • STREET FIGHTER II: Game raja dari segala raja. Mau mainin game ini antrinya minta ampun. Taruhan koin dan drama "jari kram" udah biasa karena Hadouken terlalu sering ditekan.
  • MORTAL KOMBAT: Dengan berbagai karakternya yang menarik dengan kombo fatality bikin kamu kelihatan keren.
  • METAL SLUG: Game adventure yang seru buat dimainin bareng temen kalau datang berdua ke tempat ding dong. Tapi harus nyetok koin yang banyak.
  • TEKKEN 3: Generasi terakhir yang benar-benar menguasai mesin arcade sebelum konsol rumahan naik takhta.
  • Dan tentu masih banyak game-game seru lainnya seperti Super Mario Bros, Raiden, atau bahkan James Bond 007.

Tempat ding dong bukan cuma tempat main game. Ia adalah ruang sosial pertama bagi banyak anak Indonesia. Tempat kamu bisa bertemu orang asing, lalu lima menit kemudian sudah berlaga bersama melawan bos terakhir.

Ada hierarki tidak tertulis, ada yang jadi "guru" dadakan,, dan ada juga yang cuma bisa nontonin orang lain main sambil kasih komentar.  Satu mesin bisa ditonton 10 anak sekaligus — dan semua punya pendapat soal strategi.

Taruhan koin antar-pemain adalah sistem kompetisi organik yang lahir sendiri. Nama-nama pemain terbaik "tercatat" di papan highscore, abadi sampai mesin dimatikan.

Mengapa Akhirnya Game Over?

sejarah game ding dong

Source: Unsplash

Pertengahan hingga akhir 1990-an adalah masa transisi. PlayStation (1994) dan Nintendo 64 membuktikan bahwa grafis sekualitas arcade bisa hadir di ruang tamu sendiri. So, kenapa harus bayar per koin di luar kalau bisa main sepuasnya di rumah?

Di Indonesia, faktor ekonomi juga berperan. Krisis 1998 memukul keras bisnis hiburan. Banyak tempat ding dong tutup satu per satu, meninggalkan mesin-mesin besar berdebu di gudang dan bahkan dijual kiloan sebagai besi tua. Sebuah akhir yang tragis untuk objek yang pernah menjadi pusat semesta anak-anak Indonesia.

Apalagi perkembangan teknologi perangkat PC, Konsol, dan Smartphone sudah cukup memberi makan kesenangan bermain game.

Ding Dong Tidak Pernah Benar-Benar Mati

sejarah game ding dong

Source: MLD Spot

Meski sudah banyak alternatif lain dengan akses yang lebih mudah, ding dong sebenarnya tak pernah benar-benar mati. Memang sih teknologi yang ditawarkan udah benar-benar tertinggal, tapi cara ia mengajarkan kita untuk bersaing dengan sportif, untuk gigih meski kalah berkali-kali, dan menemukan persahabatan di tempat yang paling tidak terduga adalah kenangan mahal yang gak akan pernah game over.

Saat ini, gelombang nostalgia retro gaming sendiri kembali marak di mana-mana. Di seluruh dunia, komunitas arcade memasuki era kebangkitannya. Di Indonesia, beberapa kafe retro dan event gaming lawas mulai menghidupkan kembali mesin-mesin klasik. 

Jadi, kalau suatu hari kamu menemukan mesin arcade tua di sudut sebuah kafe, jangan ragu untuk memasukkan koin. Karena beberapa hal dalam hidup memang lebih baik dinikmati satu nyawa dalam satu waktu, bukan?

Kira-kira game apa yang paling kamu rindukan dari era ding dong? Yuk, ceritakan di kolom komentar — dan tag teman masa kecilmu yang dulu sering main bareng, ya!

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.