Sejarah Subathon: Sisi Gelap Di Balik Layar Streaming!

Sejarah Subathon: Sisi Gelap Di Balik Layar Streaming!

Just For Fun
26 May 2026
23 views

Hayo ngaku, siapa di sini yang kerjaannya tiap hari mantengin YouTube, entah itu pas bangun tidur, makan siang, atau sebelum tidur. Udah kayak minum obat. Nonton streamer Subathon kesayangan, ngikutin aktivitas mereka dari awal sampai akhir, sampai-sampai lupa mandi dan dimarahin emaknya!

Subathon memang jadi sebuah jenis live streaming yang marak akhir-akhir ini. Bagi streamer, semakin banyak penonton yang tentu ini menjadi kesempatan besar mereka buat cari cuan, sedangkan buat viewers itu sendiri? Ini masih jadi tanda tanya!

Mirisnya lagi, para penonton juga sering dikira pengangguran yang nggak punya kerjaan. “Kok ada ya, yang mau nonton orang tidur dan ngikutin keseharian streamer dari bangun sampai tidur?” Nah, dalam artikel ini kita akan bahas jejak subathon dari awal istilah ini muncul sampai jadi habit yang susah buat ditinggalin!

Jejak Awal Mula Subathon: Apa Itu Subathon?

Istilah subathon sendiri berasal dari gabungan dua kata, yaitu “sub” dan “marathon.”. Kata “sub” biasanya merujuk pada subscription atau langganan di platform live streaming seperti Twitch atau YouTube.

Sementara “marathon” berarti aktivitas yang berlangsung lama, terus-menerus, dan membutuhkan daya tahan. Jadi, secara sederhana, subathon berarti “subscription marathon”, yaitu siaran langsung panjang yang durasinya dipengaruhi oleh jumlah dukungan dari penonton, terutama lewat subscribe, gift sub, donasi, atau bentuk dukungan lainnya.

Biasanya, streamer memasang timer. Setiap kali ada penonton yang subscribe, memberi gift sub, cheer, atau berdonasi, timer akan bertambah. Stream akan terus berjalan sampai timer habis.

Contoh gampangnya, seorang streamer bisa membuat aturan seperti ini:

  • “Setiap 1 subscribe menambah 30 detik.”
  • “Setiap gift sub menambah 1 menit.”
  • “Setiap donasi Rp10.000 menambah 20 detik.”

Dengan sistem seperti itu, penonton punya peran besar dalam menentukan apakah stream berakhir cepat atau justru berlangsung berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Untuk awal mula bagaimana subathon ini muncul cukup sulit untuk dipastikan. Siapa orang pertama yang benar-benar diakui sebagai yang menciptakan istilah atau formatnya pun juga tidak bisa rumuskan dengan gampang.

Karena, konsep streaming maraton dan donasi untuk memperpanjang streaming sudah berkembang secara bertahap di komunitas Twitch. Jadi, klaim bahwa satu orang ditentukan sebagai “penemu subathon” sepertinya agak sulit buat divalidasi.

Sejarah Subathon

Namun, salah satu momen yang membuat subathon dikenal luas adalah subathon Ludwig Ahgren pada 2021. Ludwig memulai live stream di Twitch pada 14 Maret 2021 dan stream itu berakhir pada 13 April 2021, berlangsung sekitar 31 hari. Dalam subathon tersebut, setiap subscription menambah waktu ke timer, sehingga streaming terus berjalan jauh lebih lama dari perkiraan awal.

Subathon Ludwig menjadi sangat terkenal karena ia berhasil menarik perhatian besar, mendapatkan ratusan ribu subscriber, dan memecahkan rekor subscriber aktif Twitch saat itu. Setelah itu, format subathon makin sering dipakai oleh streamer besar maupun kecil sebagai event spesial komunitas.

Setelah populer di Twitch, konsep subathon mulai menyebar ke berbagai platform lain. Di YouTube, TikTok Live, Kick, dan platform streaming lain, formatnya bisa berbeda, tetapi idenya tetap sama, yaitu durasi atau tantangan stream dipengaruhi oleh dukungan audiens.

Beberapa streamer juga membuat subathon versi sederhana, misalnya maksimal sampai 12 jam atau 24 jam. Ada juga yang membuat event besar selama berhari-hari. Bahkan sekarang, subathon tidak selalu hanya tentang subscribe. Ada yang menggabungkannya dengan target charity, milestone followers, challenge game, konten IRL, giveaway, atau event komunitas.

Dalam perkembangannya, subathon juga melahirkan variasi nama. Contohnya, Kai Cenat memakai istilah “Mafiathon” untuk event subathon komunitasnya. Formatnya masih berhubungan dengan subathon, tetapi diberi branding sesuai identitas komunitas mereka.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia juga nggak kalah keren soal streaming subathon. MARAPTHON tentu aja jadi tolak ukur yang nggak bisa diremehkan. Tapi sebelum kita masuk ke sana, cerita subathon masuk ke Indonesia sendiri sudah dimulai sekitar tahun 2021, ketika budaya livestream YouTube dan Twitch sedang berkembang dengan cepat.

Berdasarkan jejak di media publik, salah satu nama paling awal yang tercatat melakukan subathon di Indonesia adalah Tierison atau yang dikenal juga dengan nama Jot. DetikInet pada 16 Juni 2021 menulis bahwa Tierison baru saja menyelesaikan subathon hingga 198 jam 37 menit 5 detik, dengan aturan timer yang bertambah dari subscribe dan donasi. Tapi, untuk klaim bahwa Tierison adalah streamer Indonesia pertama yang melakukan subathon sepertinya masih abu-abu.

Setelah itu, nama Edho Zell juga ikut ramai dibicarakan. Pada Juli 2021, Edho Zell melakukan challenge subathon di YouTube, dan pemberitaan saat itu menyebut stream tersebut dimulai pada 17 Juli 2021.

Seiring berjalannya waktu, subathon semakin diminati penonton Indonesia. Beberapa YouTubers bahkan diminta oleh viewers mereka untuk melakukan subathon. Kalau bicara paling fenomenal, ada beberapa nama dengan kategori berbeda.

Seperti Rusman, streamer Dota 2 yang terkenal dengan durasi dan ketahanannya melakukan streaming. Subathon Rusman diberitakan berakhir pada hari ke-412, setelah berjalan lebih dari setahun, dan disebut menghasilkan nominal dukungan yang sangat besar. Ini membuatnya menjadi salah satu contoh paling ekstrim dalam sejarah subathon Indonesia.

Tapi untuk yang paling fenomenal, mainstream, viral, dan berdampak ke budaya internet Indonesia, nama Reza Arap dan MARAPTHON nggak bisa terbantahkan sudah jadi top of mind buat kita semua.

MARAPTHON bukan hanya subathon biasa. Ia memadukan live stream, reality show, komunitas, bintang tamu, momen spontan, drama ringan, humor, nostalgia, sampai event offline. Season 1 diberitakan selesai setelah 34 hari pada 27 Desember 2024. Pada 2026, MARAPTHON Season 3 “The Last Tale” bahkan diberitakan berjalan sekitar 101–102 hari dan ditutup lewat acara besar di Istora Senayan.

Puncaknya, Reza Arap bersama AAA Clan mencatat dua Guinness World Records dalam rangkaian Marapthon Season 3, termasuk siaran ulang tahun live di YouTube dengan 238.039 penonton bersamaan.

Reza Arap lewat MARAPTHON mengubah skalanya. Dari sekadar “stream yang panjang”, ia menjadikannya tontonan kolektif. Orang datang bukan hanya untuk melihat timer, tetapi untuk mengikuti cerita: siapa yang datang hari ini, kejadian random apa yang bakal muncul dari Aloy, Ibot dan kawan-kawannya, momen emosional apa yang terjadi antara Tepe dan Arap, serta bagaimana reaksi random penonton di kolom live chat.

Sejarah Subathon

Subathon di Indonesia akhirnya bukan cuma soal berapa lama seseorang bisa menyalakan kamera. Ia menjadi cerita tentang bagaimana penonton modern ingin merasa hadir, ikut menentukan arah tontonan, dan menjadi bagian dari perjalanan seorang kreator secara real time.

Berapa Ya Pendapatan Streamer Subathon?

Seperti yang sudah kita jelasin di awal, subathon itu punya konsep streaming di mana dukungan dari komunitas menentukan proses streaming. Jadi, keterlibatan penonton berpengaruh besar terhadap pendapatan dan keuntungan si streamer subathon itu sendiri.

Dari catatan di media publik yang berhasil kita rangkum, ada beberapa live streaming yang mencatatkan rekor donasi streaming dengan angka yang fantastis.

Sejarah Subathon

Seperti pada April 2026, dunia streaming dikejutkan oleh kreator Polandia bernama Ɓatwogang. Ia melakukan livestream selama 9 hari nonstop dari sebuah apartemen di Warsawa untuk mendukung anak-anak penderita kanker melalui Cancer Fighters Foundation. 

Reuters melaporkan total donasinya menembus lebih dari 250 juta zloty, atau sekitar US$69 juta, dan disebut melampaui rekor livestream fundraiser sebelumnya lebih dari tiga kali lipat.

Sementara untuk rekor resmi yang tercatat oleh Guinness di halaman resmi mereka saat ini masih menyebut Z Event 2025 sebagai pemegang rekor “most money raised by a live stream fundraiser” dengan angka mencapai $19,458,634.71 USD atau kurang lebih setara dengan Rp344,71 miliar.

Kalau untuk rekor format streaming subathon sendiri masih melibatkan streamer Twitch terkenal Kai Cenat dengan seri Mafiathon. Pada Mafiathon 2 tahun 2024, ia melakukan livestream 30 hari dan memecahkan rekor subscriber Twitch; Polygon mencatat ia melewati rekor Ironmouse dan stream tersebut juga dikaitkan dengan komitmen donasi 20% pendapatan untuk membangun sekolah di Nigeria.

Lalu pada Mafiathon 3 pada tahun 2025, Kai Cenat menjadi streamer Twitch pertama yang melewati 1 juta active subscribers selama subathon bulanannya. Teen Vogue melaporkan milestone itu terjadi pada 28 September 2025, dan event tersebut juga diarahkan untuk penggalangan dana sekolah di Nigeria.

Tapi angka Kai Cenat lebih tepat disebut rekor subscriber/pendapatan subathon, bukan “donasi charity livestream terbesar”, karena sebagian besar uangnya berasal dari subs dan revenue stream, sementara porsi charity-nya berdasarkan komitmen persentase pendapatan.

Sedangkan di Indonesia, nama yang paling kuat datanya adalah Windah Basudara. Pada 14 Mei 2023, Windah bersama JAYA Esports menggelar charity livestream dengan target Rp1 miliar. Liputan6 melaporkan target itu tercapai dalam kurang dari 5 jam, dan selama sekitar 6 jam live mereka mengumpulkan sekitar Rp1,3 miliar untuk disalurkan ke sekitar 20 lembaga melalui Kitabisa.

Kalau bicara subathon Indonesia, nama yang sering muncul adalah Rusman, streamer Dota 2. Subathon Rusman yang berakhir di hari ke-412 dan disebut menghasilkan miliaran rupiah. Rusman dikatakan bisa mendapat sekitar Rp5–10 juta per hari dari donasi viewers selama periode subathon, meski ini lebih berupa estimasi/laporan media, bukan laporan audit publik.

Tapi… Kenapa Sih Kita Mau Nonton Orang Tidur? Apa Benar Penonton Subathon = Orang-Orang Kesepian?

Sejarah Subathon

Menonton subathon sering kali dikaitkan dengan “nonton orang tidur”. Kalau emang iya, ngapain kita mau nontonin orang tidur?. Persepsi ini sering muncul dari orang-orang yang nggak paham apa itu sebenarnya streaming subathon.

Mereka nggak tahu kalau subathon lebih dari sekedar itu. Ada satu hal yang membuat penonton itu betah mantengin platform streaming berjam-jam, yaitu kebiasaan menjadikan streamer sebagai “teman nongkrong digital”.

Subathon mempunyai durasi yang panjang, interaksi yang intens, dan penonton merasa punya peran langsung karena dukungan mereka bisa memperpanjang keberlangsungan streaming. Karena itulah sebagian besar penonton streaming merasa betah menonton subathon lama-lama sebagai alternatif hiburan mereka di tengah kesibukan yang mungkin udah bikin kepala kayak mau meledak!

Secara garis besar, live streaming punya keunikan yang tidak dimiliki video biasa: ia terasa hidup di mata penonton. Penonton tidak hanya sekedar melihat konten, tetapi juga melihat sesuatu terjadi secara real-time. Mereka bisa masuk sebentar, menonton beberapa menit, meninggalkan komentar, lalu kembali ke aktivitas lain.

Dalam riset tentang penonton live streaming di Twitch, Hilvert-Bruce dkk. meneliti 2.227 pengguna Twitch untuk memahami apa motivasi orang menonton live stream. Studi ini menunjukkan bahwa keterlibatan penonton live streaming tidak hanya didorong oleh konten, tetapi juga oleh motivasi sosial, interaksi, komunitas, dan pengalaman bersama.

Riset lain tentang orang yang menonton orang lain bermain game juga menemukan beberapa motif utama: kebutuhan kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial, dan pelepasan ketegangan. Dengan kata lain, orang tidak hanya menonton live streaming untuk “melihat game”, tetapi juga untuk hiburan, belajar, merasa terhubung, dan yang terpenting, “melepas stres sejenak”.

Di tengah kesibukan, ini menjadi penting. Live streaming tidak menuntut penonton untuk fokus penuh seperti menonton film dua jam. Ia bisa menjadi “background entertainment”: menemani makan malam, istirahat kerja, perjalanan pulang, atau waktu rebahan sebelum tidur.

Jadi, ketika seseorang membuka live stream setelah hari yang melelahkan, mereka mungkin tidak sekadar mencari tontonan. Mereka sedang mencari jeda. Sebuah ruang kecil di layar, tempat mereka bisa tertawa, mendengar suara orang lain, merasa ikut hadir, dan untuk beberapa saat melupakan tekanan hari itu.

Jadi, yang bilang penonton subathon itu pengangguran bisa kalian bungkam pakai data ini ya, guys!

Tapi, di balik keseruan itu semua. Sebuah fakta menunjukkan sisi lain dari streaming, yaitu keterkaitan penonton streaming dengan rasa kesepian. Ternyata, di depan ribuan layar kaca penonton streaming ada para penonton yang memilih streaming karena lari dari rasa kesepian yang mereka hadapi!

Penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Harvard Business School, tentang live video interaktif menemukan bahwa, sesi video live yang punya komponen sosial/interaktif (seperti subathon) dapat meningkatkan beberapa indikator psikososial terkait kesepian secara langsung. 

Namun, efek itu tidak terbukti menurunkan trait loneliness atau kesepian yang lebih menetap setelah 4 minggu. Artinya, efek positifnya cenderung sementara, bukan otomatis menjadi solusi jangka panjang.

Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Kaveladze dkk dari Frontiers in Digital Health yang mengatakan, interaksi sosial dalam live video memperbaiki beberapa outcome terkait kesepian secara jangka pendek, tetapi tidak menurunkan kesepian jangka panjang setelah 4 minggu.

Artinya, menonton live streaming atau subathon memang memiliki hubungan dengan kesepian, tetapi efeknya bergantung pada cara penonton terlibat. Live streaming yang interaktif dapat memberi rasa keterhubungan sosial dan mengurangi kesepian sesaat.

Namun, ketika penonton terlalu bergantung pada hubungan parasosial dengan streamer atau menggunakan live streaming sebagai pelarian dari relasi sosial nyata, aktivitas ini dapat berkaitan dengan kesepian yang lebih tinggi dan penggunaan yang bermasalah.

Sisi Gelap di Balik Layar Streaming

Di depan kamera, live streaming terlihat sederhana: nyalakan kamera, main game, baca chat, tertawa, lalu dapat uang dari subscriber dan donasi. Tapi di balik layar, ada ritme kerja yang brutal: harus online terus, harus lucu terus, harus responsif terus, dan yang paling berat, harus tetap terlihat “baik-baik saja” di depan ribuan orang.

Live streaming bukan cuma hiburan. Ia adalah panggung tanpa tirai. Ketika kamera menyala, streamer bekerja. Ketika kamera mati, mereka tetap dipantau. Dan di sisi lain layar, viewers juga tidak selalu datang hanya untuk hiburan. Banyak yang datang karena kesepian, butuh teman, butuh validasi, atau merasa streamer adalah satu-satunya orang yang “mengerti” mereka.

Dari sinilah beberapa kasus besar lahir.

Sejarah Subathon

Byron “Reckful” Bernstein adalah salah satu nama besar Twitch, dikenal lewat World of Warcraft dan komunitas streaming yang sangat loyal. Tapi di balik persona lucu dan karismatiknya, Reckful sering terbuka soal depresi dan kesehatan mental. Ia bahkan pernah berbicara soal kondisi mentalnya di stream bersama psikiater Dr. Alok Kanojia dari Healthy Gamer, yang membuat banyak orang melihatnya bukan hanya sebagai entertainer, tapi juga manusia yang sedang berjuang. Kampanye memorial American Foundation for Suicide Prevention menyebut Reckful memiliki riwayat depresi dan isu kesehatan mental yang pernah ia bahas secara terbuka di stream.

Yang membuat kasus Reckful begitu fenomenal adalah bagaimana internet ikut menjadi bagian dari ceritanya. Setelah kematiannya pada Juli 2020, banyak diskusi muncul tentang budaya chat Twitch: candaan kasar, trolling, ekspektasi fans, dan betapa mudahnya orang memperlakukan streamer seperti karakter, bukan manusia. Artikel dan diskusi komunitas setelahnya banyak menyorot pelecehan verbal serta bullying di chat yang diarahkan ke Reckful sebelum tragedi itu.

Subathon Ludwig Ahgren juga menjadi kasus menarik. Bukan karena Ludwig “hancur” secara mental, tetapi karena subathon membuka pintu baru: semakin lama seseorang online, semakin besar hype, semakin besar uang, semakin besar juga ekspektasi publik. Dalam ekosistem seperti ini, batas antara kerja, tidur, makan, dan hidup pribadi menjadi kabur.

Subathon membuat penonton merasa ikut “mengendalikan waktu hidup” streamer. Setiap sub bukan cuma dukungan, tapi tombol yang memperpanjang performa. Di sinilah live streaming berubah dari tontonan menjadi eksperimen sosial: seberapa lama seseorang bisa terus hidup di depan kamera?

Kasus Emilycc sangat kuat untuk narasi modern. Washington Post pada 2025 menulis tentang Emily, streamer yang menyiarkan hidupnya setiap jam selama lebih dari tiga tahun. Ia memulai dari nol follower, lalu membangun komunitas besar dengan menjadikan hidup sehari-hari sebagai tontonan tanpa jeda. Laporan itu menggambarkan bagaimana stream panjang tersebut membawa fatigue, loneliness, burnout, dan tekanan antara menjadi autentik versus memenuhi ekspektasi audiens.

Yang membuat kasus ini terasa “disturbing” adalah karena ia bukan hanya streaming game. Ia menyiarkan hidup. Tidur, bangun, bicara, menangis, semua bisa menjadi bagian dari performa. Dalam laporannya, Washington Post juga mencatat bahwa sebagian viewers merasa stream Emily menjadi “safe place” ketika mereka kesepian.

Di sini, streamer dan viewers sama-sama terikat. Emily butuh komunitas dan validasi; viewers butuh kehadiran yang konsisten. Tapi konsistensi itu dibayar dengan hilangnya ruang privat.

Dampak live streaming tidak hanya menyerang streamer. Viewers juga bisa terjebak dalam hubungan parasosial yang intens. Salah satu kasus paling fenomenal terjadi di China: seorang pria bermarga Hong dilaporkan menghabiskan sekitar 4 juta yuan atau kurang lebih sekitar Rp 10,4 Miliar, untuk memberi hadiah kepada seorang host live streaming, dengan harapan dipanggil “brother”. 

South China Morning Post melaporkan bahwa obsesi itu membuatnya hidup sangat hemat, bahkan bertahan dengan makanan sederhana, dan kasus ini menjadi bahan pembicaraan besar di media sosial China.

Kasus lain di China juga menunjukkan pola serupa: seorang suami menggugat cerai setelah istrinya dilaporkan menghabiskan tabungan keluarga, sebagian besar untuk memberi hadiah kepada male live-streamer. SCMP melaporkan kasus tersebut pada November 2025 dengan nilai sekitar US$163.000 atau sekitar 2,8 Miliar Rupiah.

Ini penting karena sistem donasi live streaming sering dibungkus sebagai “support”. Tapi bagi sebagian viewers yang kesepian, donasi bisa berubah menjadi cara membeli perhatian. Bukan membeli barang, tapi membeli momen: nama disebut, komentar dibaca, streamer tersenyum, lalu rasa kosong itu hilang sebentar.

Risiko lain dari hubungan parasosial adalah ketika viewer merasa punya hak atas hidup streamer. Pada 2025, kasus FaZe Lacy ramai dibahas setelah ia menghadapi seorang perempuan yang diduga menguntitnya saat livestream IRL. 

Times of India melaporkan bahwa kejadian itu terjadi saat live, ketika Lacy melihat perempuan tersebut berada di sekitar lingkungannya dengan membawa koper dan tas; laporan itu juga mengaitkan insiden ini dengan risiko keamanan IRL streamer dan hubungan parasosial yang ekstrem.

Kasus semacam ini penting karena live streaming, terutama IRL streaming, membuat batas antara dunia online dan offline semakin tipis. Penonton bukan lagi hanya melihat ruang game atau studio. Mereka melihat jalan, rumah, rutinitas, lingkungan, bahkan pola hidup streamer. Semakin banyak informasi yang bocor, semakin besar risiko bagi streamer.

Pesan buat DG-ers

Subathon punya sisi positif. Format ini bisa bantu si streamer membangun komunitas, menaikkan pendapatan, merayakan milestone, atau menggalang dana untuk tujuan tertentu. Beberapa subathon juga dikaitkan dengan charity atau kegiatan sosial.

Namun, subathon juga punya sisi yang perlu dikritisi. Karena durasinya bisa sangat panjang, streamer bisa mengalami kelelahan fisik, kurang tidur, stres, dan tekanan mental. Beberapa pengamat juga menilai bahwa format ini bisa mendorong budaya “selalu live” yang tidak sehat, terutama jika streamer merasa harus terus bertahan demi views, subscriber, dan ekspektasi komunitas. 

Dalam konteks subathon Ludwig, beberapa laporan juga menyoroti bahwa maraton streaming seperti ini dapat memberi tekanan besar pada kesehatan fisik dan mental streamer.

Jadi, subathon bukan sekadar tren lucu di internet. Ia juga menunjukkan bagaimana ekonomi kreator bekerja: semakin interaktif, semakin intens, tetapi juga semakin menuntut.

Subathon bukan hanya soal streaming lama-lamaan. Ia adalah simbol perubahan budaya internet: dari penonton pasif menjadi komunitas aktif, dari hiburan sederhana menjadi event digital besar, dan dari passion kreator menjadi bagian dari ekonomi live streaming modern. 

Di satu sisi, subathon bisa menjadi momen komunitas yang kuat. Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa di balik layar panjang yang terlihat seru, ada risiko burnout, tekanan performa, dan batas kesehatan yang tetap harus dijaga.

Di sisi viewers, pada akhirnya live streaming bisa menjadi cahaya kecil di malam yang terasa panjang. Ia bisa membuat kita tertawa, merasa ditemani, dan sejenak lupa bahwa hari ini berat.

Pesan Nindy buat DG-ers, live streaming emang bisa membantu mengurangi stres. Tapi kalau kamu mulai menonton berjam-jam hanya untuk menghindari masalah, tidur jadi berantakan, kerjaan tertunda, atau hubungan dengan orang sekitar makin jauh, itu tanda kamu perlu jeda.

Karena mungkin, yang kamu butuhkan bukan berhenti menonton live streaming. Tapi mulai menggunakan live streaming sebagai jembatan: dari merasa sendirian, menuju merasa terhubung kembali dengan dunia.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.