Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Messi Kalah dan Menangis

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Messi Kalah dan Menangis

Berita
20 July 2026
36 views

Penulis: Redzi Arya Pratama

Spanyol akhirnya kembali duduk di singgasana sepak bola dunia. La Furia Roja memastikan diri sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 melalui babak tambahan waktu. Pertandingan final yang berlangsung sengit itu menjadi panggung pembuktian bahwa permainan kolektif masih menjadi senjata paling mematikan di level tertinggi.

Di sisi lain, laga ini juga menghadirkan momen emosional bagi Lionel Messi. Sang megabintang yang berambisi menambah koleksi trofi Piala Dunia harus mengubur impiannya setelah gagal membawa Argentina mempertahankan gelar. Seusai peluit panjang dibunyikan, Messi tampak tak kuasa menahan air mata karena kesempatan menjadi juara dunia untuk kedua kalinya sirna.

Final ini sebenarnya berjalan sesuai prediksi banyak pengamat. Argentina mengandalkan pengalaman serta kualitas individu, sedangkan Spanyol tampil dengan identitas permainan mereka yang mengutamakan penguasaan bola, pergerakan tanpa bola, dan sirkulasi umpan cepat. Perbedaan filosofi tersebut menjadi pembeda sepanjang pertandingan.

Meski Argentina memiliki Emiliano Martinez yang tampil luar biasa di bawah mistar gawang, tekanan tanpa henti dari Spanyol akhirnya membuahkan hasil. Serangan demi serangan terus mengalir hingga akhirnya benteng terakhir Albiceleste runtuh pada babak tambahan waktu.

Gol kemenangan Spanyol dicetak Ferran Torres pada menit ke-106 melalui tendangan voli keras yang tak mampu dihentikan Martinez. Gol tersebut memastikan Spanyol kembali menjadi kampiun dunia sekaligus menorehkan sejarah baru dalam perjalanan sepak bola mereka.

Spanyol Kuasai Semua Statistik

Spanyol Juara Piala Dunia - Reuters

Kemenangan Spanyol bukan sekadar hasil akhir di papan skor. Dominasi mereka terlihat jelas dari hampir seluruh statistik pertandingan yang memperlihatkan betapa superior permainan kolektif La Furia Roja sepanjang 120 menit.

Spanyol mencatatkan 20 tembakan, sementara Argentina hanya mampu melepaskan 3 tembakan. Lebih mencolok lagi, sebanyak 11 tembakan Spanyol mengarah tepat ke gawang, sedangkan Argentina bahkan gagal menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran. Statistik tersebut menggambarkan betapa sulitnya Messi dan rekan-rekannya menciptakan peluang berbahaya.

Penguasaan bola juga menjadi milik Spanyol dengan angka mencapai 68 persen, berbanding 32 persen milik Argentina. Dominasi itu semakin diperkuat dengan total 803 operan yang dilepaskan Spanyol dengan akurasi mencapai 90 persen. Sebaliknya, Argentina hanya membukukan 445 operan dengan tingkat akurasi 78 persen.

Permainan progresif ala tiki-taka yang diterapkan Spanyol benar-benar membuat Argentina kehilangan ritme permainan. Bola terus berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya dengan sangat cepat sehingga para pemain Albiceleste lebih banyak mengejar bola dibanding membangun serangan. Messi pun berkali-kali harus turun jauh untuk mencoba mendapatkan bola, namun rapatnya organisasi permainan Spanyol membuat sang kapten nyaris tak memiliki ruang untuk berkreasi.

Jika bukan karena penampilan luar biasa Emiliano Martinez, pertandingan kemungkinan sudah berakhir jauh lebih cepat. Kiper Aston Villa tersebut melakukan 11 penyelamatan sepanjang waktu normal dan menjadi alasan utama Argentina mampu bertahan hingga babak tambahan waktu. Berkali-kali ia menggagalkan peluang emas dari Lamine Yamal, Pedri, Nico Williams, hingga Ferran Torres.

Namun pertahanan Argentina akhirnya runtuh pada menit ke-106. Sebuah rangkaian umpan cepat khas Spanyol membuka celah di sisi pertahanan lawan. Bola kemudian dikirim ke dalam kotak penalti sebelum disambut Ferran Torres dengan tendangan voli keras yang meluncur deras ke gawang. Kali ini Martinez tak mampu berbuat apa-apa.

Gol tersebut menjadi klimaks dari dominasi Spanyol sepanjang pertandingan. Mereka terus menyerang dengan sabar, tidak terburu-buru, dan tetap mempertahankan filosofi permainan kolektif hingga akhirnya menemukan celah yang menentukan gelar juara.

Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Lionel Messi. Setelah sukses mengantar Argentina menjadi juara dunia pada edisi sebelumnya, ia berpeluang mencatat sejarah sebagai pemain yang mampu mempersembahkan dua gelar Piala Dunia. Namun impian itu harus kandas di hadapan permainan sempurna Spanyol. Air mata Messi selepas pertandingan menjadi gambaran betapa berharganya kesempatan tersebut.

Sebaliknya, kemenangan ini mempertegas kebangkitan Spanyol sebagai kekuatan utama sepak bola dunia. Setelah sebelumnya sukses menjuarai Piala Eropa, kini mereka melengkapinya dengan trofi Piala Dunia 2026. Prestasi tersebut menyamai pencapaian emas generasi terdahulu yang juga pernah menjuarai Euro dan Piala Dunia secara beruntun, sekaligus membuktikan bahwa filosofi permainan kolektif tetap menjadi resep paling efektif untuk meraih kejayaan di panggung terbesar sepak bola dunia.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.